Rabu, 19 November 2014

Surat terbuka untuk pak Jokowi

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaykum wr wb

Selamat pagi Bpk Jokowi yg terhormat, perkenalkan nama saya Ari Mayang, guru SMA di Jawa Tengah. Berkaitan dengan pengumuman kenaikan BBM di tanah air yang bapak sampaikan kemarin, izinkan kami sebagai warga negara, yang dijamin dengan UU, untuk menyampaikan hak kami dalam menyatakan pendapat, opini dan menyampaikan usul/sumbangsih saran kepada bapak selaku presiden Republik Indonesia. Di satu sisi saya juga telah membaca UU ITE yang melarang segala bentuk penghinaan dan penggiringan opini / fitnah di media sosial. Oleh karena itu kami berupaya untuk sangat berhati2 sekali dalam menuliskan surat terbuka ini agar tidak menyinggung pihak2 tertentu. Dan apabila ada sedikit pemaparan kami yang menyinggung Bapak, mk sebelumnya kami memohon maaf yang sebesar2nya krn bkn itu maksud/tujuan kami (merendahkan kehormatan Bapak sebagai Presiden RI sekaligus sbg lambang negara) dlm menulis surat terbuka ini.
1. Pertama kami mengucapkan selamat atas terpilihnya bapak sebagai Presiden baru RI masa bakti 2014-2019. Meskipun pilpres kemarin saya tidak ikut berkampanye untuk bapak, bagaimanapun juga sekarang bapak adalah presiden saya yang sah dan konstitusional yang wajib saya dukung dan saya hormati. Bagi saya pribadi, pilpres kemarin adl advantage bagi masyarakat. Bagaimana tidak, kdua pasang calon berlomba memaparkan visi misi demi kemakmuran masyarakat. Dalam logika saya, siapapun yang terpilih sebagai presiden, toh masyarakat bawah akan tetep sejahtera dan makmur.
2. Kedua, saya kemarin menyimak di stasiun televisi swasta tentang penjelasan bapak mengenai alasan kenaikan BBM. Yang saya tangkap saat itu adalah bapak menyampaikan dengan bersemangat bahwa kesalahan subsidi BBM adalah membuat Rp. 700 trilyun uang negara 'dibuang' SETIAP HARI selama 5 tahun yang lalu. Bapak juga menyampaikan di satu sisi anggaran kesehatan hanya sebesar Rp. 200 trilyun. Saya sebagai rakyat biasa tentu sangat terpukau dan terkejut dengan angka2 'pemborosan' yang bapak sampaikan. Oleh karena itu saya dapat memahami kemarahan dan kegusaran bapak dalam melihat angka2 tsb diatas.
3. Fenomena di masyarakat. Bapak Jokowi yang kami muliakan, pagi ini istri saya berbelanja di warung. Sebagai catatan, harga bahan pokok bahkan sudah beranjak naik sebelum bapak mengumumkan kenaikan BBM. Rupanya isu kenaikan BBM terlampau cepat direspon pasar. 1/4 kg telur ayam broiler sudah naik menjadi Rp. 8500. Artinya sekitar Rp. 35.000/kg. Padahal kami biasanya mendapati harganya berkisar Rp. 18.000-Rp. 20.000 /kg. Dan kenaikan harga ini dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, krn telor adalah salah satu contoh bahan makanan pokok yang dikonsumsi mulai golongan miskin hingga kaya sekalipun
4. Bapak Jokowi yang terhormat, saat di warung itulah istri sy menceritakan, beberapa ibu rumah tangga memprotes keputusan bapak menaikkan BBM. Mereka bahkan sampai menuduh bapak ingkar dengan janji kampanye bapak dahulu saat pilpres. Mereka berkata menyesal telah memilih bapak sebagai capres dahulu. Sebagai warganegara, disatu sisi saya marah dan tersinggung saat presiden saya diolok2 sedemikian rupa, namun disisi lain saya bisa menangkap kekecewaan konstituen bapak yang merasa dahulu sudah memilih bapak.
5. Berkaitan dengan konstituen/pendukung bapak yang kecewa atas kenaikan bbm ini, saya sebenarnya trenyuh. Saya tau sendiri mereka bekerja mati2an dalam mengkampanyekan bapak spy terpilih sbg presiden. Ada teman saya yang aktif mengajak saya untuk ikut menyumbang kampanye bapak karena dia terharu melihat bapak kampanye kemana2 hanya naik ojek dan bemo. Saat saya kebratan dengan klaim teman sy td dan sy tunjukkan foto bapak yang menaiki jet pribadi, teman saya terdiam sejenak, menghela nafas, kemudian tersenyum dan berkata: "Baiklah, jadi sumbanganya untuk membantu pak Jokowi menyewa jet pribadi itu". Luar biasa bukan pendukung bapak? Lain lagi dengan kedua teman sy yg aktif ikut berkampanye untuk bapak di media sosial dahulu, terakhir di DP BBM mereka terpampang foto saat mereka antri BBM malam2. Saya pribadi sangat terharu dengan perjuangan dan pengorbanan para pendukung bapak. Kalau boleh berandai2, alangkah adilnya jika kenaikan BBM ini tidak berlaku pada konstituen bapak. Entah bgmn caranya. Yang saya pahami mereka telah berjuang dan berkorban untuk bapak, dan mereka jg merasa telah memiliki 'kontrak politik' dengan bapak, apabila memilih bapak maka BBM tidak akan naik. Maka, biar kenaikan BBM ini ditanggung oleh yang bukan pemilih bapak, krn mereka tidak memiliki 'kontrak politik' dengan bapak. Menurut saya itu lebih adil dan logis dalam pandangan saya. Meskipun sy tau sulit u mewujudkan ide sy tsb.
6. Bapak Jokowi yang saya hormati, apabila kami diijinkan menyampaikan keberatan hati kami atas keputusan bapak dan pemerintah dalam menaikkan harga BBM, maka izinkan kami menyampaikan hal2 berikut ini:
a. Kami sdh memahami alasan bapak menaikkan harga BBM dengan asumsi Rp. 700 trilyun 'dihamburkan' pemerintah setiap harinya u subsidi BBM. Bapak jelaskan anggaran tersebut akan dialihkan ke sektor2 lainnya demi kemakmuran rakyat, membangun infrastruktur, rumah sakit dll. Namun bapak, mohon maaf jika kami keliru, saat kampanye pilpres yang ditayangkan scr live di stasiun TV dahulu bapak dengan tegas dan yakin visi misi bapak akan lancar terlaksana karena sudah ada dananya. Dan itu bapak ulang berkali2. Sudah ada dananya. Oleh karena itu kami bingung menyikapinya, mana yg benar? Krn jika benar sdh ada dananya, sebenarnya bapak tidak perlu menaikkan BBM bukan?
b. Yang kedua adalah kembali mengenai keputusan menaikkan BBM. Apabila memang bapak dan tim merasa kenaikan BBM ini adlh sebuah keniscayaan yg tdk bs dihindari, mengapa bapak tidak jauh2 hari mengkampanyekan 'ketidaksehatan' subsidi BBM, saat kampanye dahulu misalnya. Sehingga masyarakat sdh siap, bisa mengurangi gejolak, demonstrasi, dan yang paling penting klaim pendukung bapak yg merasa bpk pernah berjanji u tdk menaikkan BBM bs terhindari. Karena bg sebagian orang, maaf bapak, pejabat publik yang melakukan kebohongan akan sangat tidak bagus secara norma dan etika.
c. Angka Rp. 700 trilyun subsidi BBM mrpkn pemborosan? sekali lagi mohon maaf bapak bkn bermaksud mengajari, klaim tsb juga masih mengundang dialektika dan diskursus, karena itu berpulang pada bgmn kita memandang konsep sebuah negara. Apakah negara itu sebuah state atau company. Jika logikanya negara takubahnya adalah perusahaan atau company, mk angka Rp. 700 trilyun yg digelontorkan setiap hari adl mrpk kebocoran dan pemborosan yg luar biasa. Dan wajib ditutup. Krn negara merugi. Negara /company tdk boleh rugi. Negara harus untung. Sy tdk meragukan itu. Namun, jika logika negara adlh sebuah state atau terlbih lagi walfare state (negara yg sejahtera), maka angka tersebut bukanlah hal yg sia2 yang wajib dihentikan. Bukankah ada kata2 "untuk sebesar2 kemakmuran rakyat" bapak? Apakah angka Rp. 700 trilyun sdh melebihi definisi sebesar2 kemakmuran rakyat shg harus dihentikan? Sy sering membaca kisah kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, dimana rakyatnya saat itu sangat sejahtera sampai2 zakat pun tdk ada yg mau menerima. Apakah anggaran Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk kesejahteraan rakyatnya adl pemborosan bapak? Pernahkah khalifah Umar menghitung2 kerugian negara dlm rangka program kesejahteraan rakyatnya bapak? Jangankan untuk tidak menaikkan harga BBM, klo perlu bapak bisa menggratiskan BBM. Sama spt kebijakan menggratiskan sekolah dan kesehatan. Sy kira bapak akan sangat setuju dengan pendapat sy mengenai khalifah Umar, krn sy faham bapak berasal dr trah masyarakat Jawa yg dikenal halus hatinya dan bapak sendiri adl mantan pebisnis yg pasti memiliki insting yg cerdas dan bijaksana.
7. Pada akhirnya bapak, saya berharap, andaikan mungkin, bisakah keputusan bapak menaikkan BBM ini bisa dibatalkan atau minimal ditunda sampai ekonomi masyarakat membaik. Saat ini kami melihat angka kemiskinan masih sangat besar. Sangat tidk bijak rasanya menaikkan harga BBM saat2 ini bapak. Namun apabila memang keadaan negara saat ini memang sedang tdk memungkinkan / blm siap untuk disebut sbg walfare state, mk kamipun rakyat dibelakang bapak jg akan siap. Kalau bapak rekoso, kamipun siap rekoso, klo bapak susah insy kamipun siap hidup susah. Pepatah Jawa mengatakan tiji tibeh. Mukti siji mukti kabeh (1 mulia semua ikut mulia), ataupun Mati siji mati kabeh (1 mati semua ikut mati) susah senang kita tanggung bersama bapak presiden.kami rakyat dibelakang bapak siap mendukung bapak.

Trima kasih

Wassalamualaykum wr wb.

Tidak ada komentar: